Tampilkan postingan dengan label MITOS HORROR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MITOS HORROR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

MITOS BIDADARI DALAM KEMARAU

COWONGAN DI DESA PLANA KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS
(Oleh: Yusmanto)

Pendahuluan
Dalam kehidupan masyarakat, masih ada anggapan bahwa alam memiliki kekuatan yang dapat memberikan pengaruh bagi kehidupan mereka baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Oleh karena itu manusia melakukan pendekatan atau berkomunikasi dengan alam dengan melakukan sesaji, sesembahan, ritual-ritual, dan lain-lain dengan harapan alam bermurah hati memberi kesempatan kepada mereka untuk hidup lestari.
Dalam rangka pendekatan tersebut manusia seringkali menggunakan media kesenian dalam upacara-upacara untuk mencapai tujuannya. Melalui aktivitas seni inilah masyarakat melakukan ritual-ritual tertentu yang bermakna sebagai bentuk persembahan seluruh jiwa dan raga terhadap Sang Pencipta. Salah satu jenis kesenian yang keberadaannya berkaitan langsung dengan ritual tradisional adalah cowongan. Cowongan adalah salah satu jenis ritual atau upacara minta hujan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Banyumas dan sekitarnya. Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, permintaan datangnya hujan melalui cowongan, dilakukan dengan bantuan bidadari, Dewi Sri yang merupakan dewi padi, lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Melalui doa-doa yang dilakukan penuh keyakinan, Dewi Sri akan datang melalui lengkung bianglala (pelangi) menuju ke bumi untuk menurunkan hujan. Datangnya hujan berarti datangnya rakhmat Illahi yang menjadi sumber hidup bagi seluruh makhluk bumi, termasuk manusia.

Dilihat dari asal katanya, cowongan berasal dari kata “cowong” ditambah akhiran “an” yang dalam bahasa Jawa Banyumasan dapat disejajarkan dengan kata perong, cemong, atau therok yang diartikan berlepotan di bagian wajah (Fadjar P. 1991:47). Perong, cemong, dan therok lebih bersifat pasif (tidak sengaja). Sedangkan cowongan lebih bersifat aktif (disengaja). Jadi cowongan dapat diartikan sesuatu yang dengan sengaja dilakukan seseorang untuk menghias wajah. Wajah yang dimaksud adalah wajah irus yang dihias sedemikian rupa agar menyerupai manusia (boneka).

Salah satu daerah yang hingga saat ini masih melaksanakan ritual cowongan pada setiap kemarau panjang adalah masyarakat di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Daerah ini terletak di ujung sebelah timur dari kabupaten Banyumas, kurang lebih 15 km di sebelah timur kota Banyumas, berbatasan dengan kabupaten Banjarnegara dan berbatasan dengan kabupaten Purbalingga. Di sebelah timur terdapat sungai kecil (kali Plana) yang menjadi batas desa tersebut dengan desa Karangsalam, kecamatan Susukan, kabupaten Banjarnegara. Sebelah utara dan barat dilingkari sungai serayu yang mejadi batas kabupaten Banyumas dan kabupaten Banjarnegara. Walaupun letaknya dekat dengan sungai, tetapi pada saat musim kemarau yang panjang, daerah ini sangat kering dan air sangat sulit untuk di dapat. Apalagi sebagian besar masyarakat di desa Plana bermata pencaharian sebagai petani. Lahan-lahan yang digarap meliputi lahan basah atau sawah, lahan kering berupa tegalan, serta tanah tadah hujan sehingga saat musim kemarau datang lahan ini sangat kering dan petani tidak dapat menggarap sawah mereka. Masyarakat di desa ini masih percaya, melalui ritual cowongan maka akan segera turun hujan yang sangat berguna agar sumur-sumur dan sumber mata air keluar lagi airnya, sawah dan ladang tidak lagi tandus, dan berbagai tanaman bersemi kembali bagi kelangsungan hidup mereka.

Cowongan dilaksanakan hanya pada saat terjadi kemarau panjang. Biasanya ritual ini dilaksanakan mulai pada akhir Mangsa Kapat (hitungan masa dalam kalender Jawa) atau sekitar bulan September. Pelaksanaannya pada tiap malam Jumat, dimulai pada malam Jumat Kliwon. Dalam tradisi masyarakat Banyumas, cowongan dilakukan dalam hitungan ganjil misalnya satu kali, tiga kali, lima kali atau tujuh kali. Apabila sekali dilaksanakan cowongan belum turun hujan maka dilaksanakan tiga kali. Jika dilaksanakan tiga kali belum turun hujan maka dilaksanakan sebanyak lima kali. Demikian seterusnya hingga turun hujan. Cowongan hingga saat ini masih dapat dijumpai di Desa Plana, Kecamatan Somagede.

(WARNING! CUKUP ANDA MENGETAHUI, JANGAN PERCAYA 100%, DAN JANGAN SAMPAI ANDA BERSENTUHAN DENGAN DUNIA INI! SANGAT BERBAHAYA BAGI DUNIA - AKHIRAT!)

Tahap-tahap Penyelenggaraan Cowongan
1. Tahap Persiapan 
a. Mencuri Irus atau Siwur. Tahap persiapan dilakukan dengan mencuri irus atau siwur yang akan dijadikan sebagai properti ritual cowongan. Irus tersebut dicuri dari sebuah rumah yang memiliki pintu di bawah pompok (bubungan). Rumah seperti ini menurut kepercayaan masyarakat Banyumas paling mudah dilalui oleh roh halus, termasuk bidadari yang diharapkan datang untuk menurunkan hujan bagi seluruh umat manusia.

b. Irus atau Siwur Bertapa. Irus atau siwur yang telah berhasil dicuri, kemudian ditancapkan di sebuah batang pohon Pisang Raja. Masyarakat di Desa Plana menyebutnya siwur atau irus ini dibiarkan bertapa. Masa bertapa bagi irus atau siwur bisanya selama tujuh hari tujuh malam, dimulai sejak malam Selasa Kliwon hingga malam Selasa Pahing.

c. Rialat. Para calon peraga cowongan diharuskan melakukan rialat atau nglakoni, yaitu perilaku mengurangi makan dan tidur. Rialat bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: tirakat, ngasrep, ngebleng, ngrowot (tidak makan wohing dami atau padi), puasa, pati geni (tidak makan makanan yang di masak pakai api dan berada dalam ruang tertutup tanpa penerangan api), dan lain-lain. Rialat dilakukan selama tiga hari pada hari-hari yang memiliki jem 40, yaitu hari Rabu Pon hingga Jumat Kliwon. Dalam perhitungan Jawa, hari Rabu memiliki jem tujuh(7), Pon (7), Kamis (8), Wage (4), Jumat (6), dan Kliwon (8). Keseluruhan jem ketiga hari itu berjumlah 40. menurut kepercayaan mereka, rialat pada hari-hari yang memiliki jumlah jam 40 sama dengan melakukan rialat selama 40 hari.

d. Peraga dalam Keadaan Suci.  Para peraga cowongan diharuskan dalam keadaan suci. Yang dimaksud dengan “suci” di sini adalah tidak sedang haid (menstruasi), nifas atau habis melakukan hubungan seksual. Dengan demikian selama tiga hari hingga pelaksanaan cowongan, para peraga berpantang melakukan atau mengalami hal-hal yang menjadikannya tidak suci.

e. Merias Properti. Properti berupa irus atau siwur sebelum dijadikan sebagai properti terlebih dahulu dirias menyerupai seorang perempuan. Pada bagian tempurung, diberi rumbai-rumbai dari ijuk dan janur (daun kelapa yang masih muda) mirip dengan rambut dan aksesories kepala. Bagian yang tidak tertutup ijuk dan janur, diolesi arang dan apu atau enjet (kapur sirih), dibuat menyerupai muka manusia. Pada bagian gagang (tempat pegangan) diberi kain warna-warni yang dipotong-potong, menyerupai baju beraneka warna.
 
f. Busana. Dalam pelaksanaan cowongan, tidak ada ketentuan pakaian bagi para peraga cowongan. Para peraga cowongan memakai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari (tidak ada ketentuan tertentu). Biasanya para peraga cowongan juga tidak merias wajahnya, mereka tampil alami sebagaimana biasanya sehari-hari.


2. Tahap Pelaksanaan Cowongan 
a. Peraga Cowongan. Peraga cowongan hanya dilakukan oleh kaum wanita. Kaum pria tidak diijinkan melakukan ritual ini. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, yang datang dan merasuk ke dalam properti cowongan adalah bidadari, sehingga kaum laki-laki tidak diijinkan untuk memegang properti itu. Peraga tidak ditentukan jumlahnya. Dalam setiap kesempatan memungkinkan berbeda-beda dalam hal jumlah peraga, sesuai dengan jumlah orang yang siap mengikuti ritual cowongan. Oleh karena itu, pelaksanaan cowongan dapat dilakukan oleh satu orang, dua orang, lima orang atau berapapun jumlah orang (wanita suci) yang hadir. Umur peraga cowongan tidak ditentukan. Berapapun umurnya, baik tua maupun muda, sudah menikah ataupun masih gadis tidak jadi soal yang penting mampu memeragakan cowongan dan dalam keadaan suci. Tetapi biasanya sebagian besar peraga cowongan adalah wanita yang sudah tua atau dewasa.

b. Waktu dan Tempat Cowongan. Cowongan biasanya dilaksanakan pada setiap terjadinya musim kemarau. Dalam perhitungan kalender Jawa musim kemarau terjadi mulai mangsa Saddha ( sekitar bulan Mei) sampai dengan mangsa kalima (sekitar bulan Oktober). Biasanya pada mangsa Katelu (Agustus) tanah-tanah pertanian sudah mulai mengering dan mulai terjadi kekurangan persediaan air tanah. Puncak kekeringan biasanya dimulai pada mangsa kapat (September) sampai dengan mangsa kalima (Oktober). Apabila pada mangsa kalima belum juga turun hujan maka penduduk akan semakin menderita kekurangan air. Ritual cowongan biasanya dilaksanakan pada mangsa Kapat menjelang mangsa Kalima yaitu sekitar bulan September. Dalam pranata mangsa Jawa, mangsa Kapat berumur 24 hari mulai tanggal 19 September dan berakhir pada tanggal 13 Oktober. Cowongan biasanya dilaksanakan pada paertengahan mangsa Kapat atau awal mangsa Kalima. Pelaksanaan cowongan tidak membutuhkan tempat tertentu dengan persyaratan-persyaratan yang terlalu sulit. Ritual cowongan biasanya dilaksanakan di halaman rumah penduduk yang luas dan memungkinkan. Pelaksanaan cowongan dilaksanakan pada malam hari. Untuk kali pertama, ritual ini dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon. Pelaksanaan selanjutnya dilaksanakan pada setiap malam Jumat (seminggu sekali). Menurut kepercayaan masyarakat di Desa Plana, cowongan dilaksanakan selama tujuh kali. Namun demikian apabila sebelum tujuh kali sudah datang hujan, maka ritual tidak dilanjutkan. Sedangkan apabila sudah dilaksanakan selama tujuh kali tidak juga turun hujan, maka dapat dilakukan lagi dengan menggunakan properti yang berbeda dan harus dimulai dari awal lagi sejak tahap persiapan.

c. Sesaji. Dalam pelaksanaan ritual cowongan biasanya terdapat berbagai macam sesaji. Beberapa macam sesaji yang biasa dijumpai dalam pelaksanaan ritual ini, antara lain: kemenyan dupa, kembang telon (bunga tiga warna: kenanga, mawar dan kantil) dan jajan pasar. Kemenyan dupa dibakar sebelum pelaksanaan upacara oleh salah seorang peraga cowongan. Biasanya orang yang membakar kemenyan dupa adalah peraga yang paling senior atau paling mengetahui perihal cowongan. Pada saat kemenyan dupa mulai terbakar dan asap mulai mengepul, properti cowongan diletakkan di atas bara dupa agar terkena asap dupa. Sesaji yang lain diletakkan di sekitar arena sebagai kelengkapan pelaksanaan upacara.

d. Pelaksanaan Cowongan. Para peraga cowongan secara bersama-sama memegang bagian pegangan properti irus atau siwur dengan tangan kanan. Bersamaan dengan itu, mereka menyanyikan sebuah tembang yang tidak lain adalah doa yang ditujukan kepada Sang Penguasa alam agar hujan segera turun. Tembang tersebut dengan teks sebagai berikut:

Sulasih sulanjana kukus menyan ngundhang dewa Ana dewa ndaning sukma widadari tumuruna Runtung-runtung kesanga sing mburi karia lima Leng-leng guleng, gulenge somakaton.
Gelang-gelang nglayoni, nglayoni putria ngungkung Kacang dawa si kanthi di kaya wite Kanthi angle lirang nini gelang gendhongan nini gelang gendhongan
Anjularet pilise kunir apu Manglong-manglong ngenteni paman juragan Gendhong pisan aku paman, emban pisan aku paman
Anjulanthir ngenthir sabuke seblakena tek anggone tenunan tek anggone tenunan
ayam tukung mrekungkung nang wuwungan dede-dede ayam tukung kaki dhuda njaluk ambung kaki dhuda njaluk ambung
ayam walik mrekithik nang wuwungan dede-dede aya walik kaki dhudha pekalongan kaki dhudha pekalongan
cek incek raga bali rog-rog asem kamilaga aja lunga-lunga laki aja ngambung pipi kiwa sing kiwa kagungan dewa sing tengen kagungan dalem
cek incek raga bali rogrog asem kamilega aja lunga-lunga laki ana ganjur loro-loro ganjure si lara sati nurunaken udhan
lutung-lutunga ngilo ngiloa njaluk udhan reg-regan rog-rogan reg-regan rog-rogan
ana kolang kaling mateng di tutur udhan-udhan reg-regan rog-rogan reg-regan rog-rogan
Ana manuk uruk-uruk udhan sebiyang-biyang dandan kinang Mantu rika agi teka aja suwe-suwe ndalan Sedhek keri dolan Sedhek keri dolan
Sembung-sembung rege mencroka kayu gudhe Ure-ure rambute Ure-ure rambute
Embok nini gandhrung ana yauga sebumbung ndalu Dhing-dhing por anu ngampor anu ngampor suluh dhuwur Babadana tilasana go pranti ngumah petagon
Ler-iler tandhure wis sumilir Tek ijo royo-royo Tek sengguh penganten anyar Tek sengguh penganten anyar
Bocah pangon paculen gumuk kidul Atos-atos dipaculi tandurane kacang ijo Sopito oliho bojo Sopito oliho bojo
Kijing mati ngilari suta ngising Anglilire Sikijing sinawa seba Sikijing sinawa seba
Kembang duren bur kolang-kalingan mega riem-riem Kalingan bathikan lonthang kalingan limaran kembang Kentrng-kentrung sirama sira nglilira Kembang kapas mbok emas ditagih utange beras Ela-ela cendhana mbok ladrang kacir

e. Bidadari pun Bisa Tersinggung. Dalam pelaksanaan ritual cowongan, ada kata-kata tertentu yang dapat menyebabkan bidadari yang merasuk ke dalam properti marah. Kata-kata tersebut adalah “Muthu Irus” (untuk properti yang menggunakan irus) atau “Muthu Siwur” (untuk properti yang menggunakan siwur). Menurut penuturan masyarakat Desa Plana, muthu adalah alat untuk mengulek sambal, yang memiliki makna simbolik lingga atau alat kelamin laki-laki. Kata “Muthu Irus” atau “Muthu Siwur” merupakan ungkapan ejekan yang memiliki makna bahwa bidadari yang merasuk ke dalam properti cowongan tidak lagi memiliki maksud suci menurunkan hujan, tetapi terselip maksud lain mencari laki-laki untuk memenuhi hasrat seksualnya. Apabila ada seseorang yang mengejek dengan kata-kata itu, maka biasanya properti cowongan akan mengamuk, mengejar orang yang melakukan ejekan.


3. Tahap Pasca Pelaksanaan Cowongan
Setelah pelaksanaan cowongan berakhir, dilakukan dua macam kegiatan, yaitu malaksanakan upacara slametan dan melarung properti. Slametan dilakukan dengan cara melakukan makan bersama nasi tumpeng beserta lauk pauknya serta jajan pasar. Sebelum itu, mereka melakukan doa bersama secara Islam. Kelengkapan lauk-pauk tidak diharuskan macamnya, terlebih lagi cowongan dilaksanakan pada saat kehidupan warga setempat tengah berada dalam penderitaan akibat kekeringan. Seluruh makanan itu diletakkan di atas daun pisang yang dipersiapkan di atas meja atau di atas tikar di lantai. Slametan dilaksanakan pada malam Jumat ketujuh atau malam Jumat sebelum itu tetapi sudah mulai turun hujan. Pada saat pelaksanaan slametan, para peserta peraga cowongan duduk memutar untuk mengepung nasi tumpeng. Oleh karena itu slametan sering disebut dengan istilah "kepungan". Makna pelaksanaan slametan adalah agar selepas pelaksanaan cowongan semua peraga dan seluruh warga desa slamet (selamat), jauh dari segala macam kendala dalam kehidupan mereka. Selain itu, mereka juga berdoa agar hujan segera turun untuk memberikan kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan seluruh warga desa. Pada pagi harinya (hari Jumat sebelum tengah hari), dilakukan acara melarung properti cowongan. Irus atau siwur yang telah dijadikan sebagai media ritual ini, dilarung atau dihanyutkan di sungai Serayu yang letaknya mengitari lebih dari separuh wilayah Desa Plana. Pelarungan irus atau siwur tidak dilakukan dengan acara khusus. Siapapun, salah seorang di antara peraga cowongan diperbolehkan melarung irus atau siwur tersebut. Makna pelarungan cowongan adalah melarung atau menghanyutkan segala sengkala atau pengaruh roh jahat yang memungkinkan merugikan kehidupan warga masyarakat setempat.

Pembahasan
Cowongan adalah suatu sarana untuk mengungkapkan keinginin masyarakat akan turunnya hujan. Sebagai komunitas petani tradisonal, masyarakat yang bermukim di desa Plana tentu saja sangat membutuhkan datangnya hujan untuk mengairi sawah yang menjadi sumber penghidupan. Apabila musim kemarau terlalu panjang akibat yang segera dapat dirasakan adalah penderitaan yang diakibatkan oleh kekeringan. Dengan melihat lebih jauh mengenai pelaksanaan cowongan, maka dapat diperoleh gambaran bahwa dalam peaksanaan cowongan terdapat 2 hal penting yaitu aktivitas seni dan bentuk ritual tradisionalyang menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan alam yang bertujuan untuk mendatangkan hujan. Disebut sebagai aktivitas seni karena didalamnya terdapat syair-syair yang tidak lain adalah doa-doa yang dilakukan dalam bentuk tembang, irus atau siwur yang menjadi properti upacara yang dihias menyerupai seorang putri. Doa-doa tersebut ditujukan kepada sang penguasa alam agar hujan segera turun. Disebut sebagai ritual tradisional karena di dalamnya terdapat sesaji-sesaji, properti-properti, rialat dan doa-doa yang kesemuanya ditujukan sebagai suatu permohonan kepada penguasa seluruh alam agar segera menurunkan hujan. Motivasi mereka untuk melakukan upacara tersebut karena manusia (masyarakat) menghormati adanya makhluk-makhluk halus yang telah membantu, memberi keselamatan dan kepuasan keagamaan. Didalam pertunjukan cowongan terdapat beberapa aspek-aspek penting, yaitu sebagai nerikut : 1. Pertunjukan cowongan sebagai bentuk permainan rakyat jawa. Menurut Koentjaraningrat yang dikutip oleh Parwatri, permainan adalah kegiatan manusia untuk menyegarkan jiwa serta mengisi waktu (Koentjaraningrat, dkk, 1984:145 dalam Parwatri 1993:12). Permainan cowongan merupakan permainan nyanyian yang menggunakan properti irus (boneka) sebagai nini cowong, yang dalam hal ini dikatagorikan sebagai permainan gaib atau permainan ritualmagis cowongan. Permainan ini bersifat sakral, karena merupakan bentukupacara minta hujan yang disertai dengan pertunjukan atau permainan cowongan. 2. Cowongan merupakan pertunjukan ritual. Ciri ritual pertunjukan cowongan dalam upacara minta hujan tercermin dalam : 1. dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon. 2. tempat yang digunakan khusus yaitu teras (bagian rumah paling depan). 3. pelakunya semua wanita yang dalam kadaan suci. 4. ada perlengkapan sesaji. 3. Pertunjukan cowongan sebagai bentuk upacara untuk mendatangkan kekuatan magis, yang tercermin dalam : 1. syair-syair lagu yang dinyanyikan oleh pelaku cowongan merupakan doa (mantra). 2. dukun (sesepuh cowongan) mengucapkan mantra yang disertai dengan tindakan membakar kemenyanyang ditujukan kepada leluatan-kekuatn supranatural agar membantu kelancaran pertunjukan tanpa halangan apapun. 4. Pertunjukan cowongan merupakan adat kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat desa Plana pada waktu kemarau panjang. Adat kebiasaan tersebut dilakukan secara turun temurun yang tidak dapat diganti oleh apapun dan selalu dihormati serta ditaati. 5. Pertunjukan cowongan mengandung aspek estetis. Hal ini tercermin dalam syair tembang yang dilagukan dan rias busananya. Kehadiran cowongan tidak tergatung pada penonton seperti yang dikatakan Pariyem “ Ajenga mboten wonten sing nonton, nggih tetep diterasaken. Mangke menawi mandeg sing sami nglampahi kenging bebendu saking sing njampangi (sekalipun tidak ada yang menonton, ya tetap diteruskan. Nanti kalau berhenti para pelakunya terkena hukuman dari yang melindungi).

Kesimpulan
Bagi masyarakat desa Plana, cowongan merupakan keharusan untuk senantiasa dilakukan sebagai upacara minta hujan setiap kemarau panjang. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat desa Plana yang sebagian besar matapenahariannya bertani atau berocok tanam. Sehingga air merupakan sumber utama bagi mreka yang areal pertaniannya merupakan sawah tadah hujan. Hujan bagi masyarakat desa Plana pada musim kemarau menjadi suatu hal yang sangat berharga. Cowongan adalah salah satu jenis ritual atau upacara minta hujan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Banyumas dan sekitarnya. Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, permintaan datangnya hujan melalui cowongan dilakukan dengan bantuan bidadari, Dewi Sri yang merupakan dewi padi, lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Melalui doa-doa yang dilakukan dengan penuh keyakinan, Dewi Sri akan datang melalui lengkung bianglala (pelangi) menuju ke bumi untuk menurunkan hujan. Pada dasarnya, dalam pelaksanaan cowongan terdapat 2 hal penting yaitu aktivitas seni dan bentuk ritual tradisional yang menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan alam yang bertujuan untuk mendatangkan hujan. Cowongan dilaksanakan dengan menggunakan properti berupa siwur atau irus yang dihias menyerupai seorang putri. Pelaku cowongan terdiri atas wanita yang tengah dalam keadaan suci (tidak sedang haid, nifas atau habis melakukan hubungan seksual). Dalam pelaksanaan ritual cowongan, para peraga menyanyikan sebuah tembang yang sesungguhnya merupakan doa-doa. Cowongan hanya dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu ketika terjadi kemarau panjang. Keberhasilan pertunjukan cowongan yaitu cepat lambatnya hujan turun, dipengaruhi oleh tindakan-tindakan ritual sebelum pelaksanaan cowongan. Pertunjukan cowongan ini terselenggara karena adanya pemahaman masyarakat yang menganggap alam memilikikekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia baik positif maupun negatif. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme terhadap masyarakat Plana masih kental. Didalam cowongan tercermin 2 aspek penting yaitu aspek ritual magis dan aspek estetik. Aspek ritual magis cowongan tercermin pada kegiatan masyarakat dalam mengatasi masalah kekeringan atau faktor cuaca dengan menggunakan kekuatan magis yaitu mengadakan upacara minta hujan yang disertai pertunjukan cowongan. Aspek estetik cowongan tercermin dalam kehidupan masyarakat desa Plana yang masih sangat tradisi mampu berkarya seni dan mengungkapkan pengalaman jiwa melalui cowongan.
SUMBER{WWW.PEMBURUMASA.BLOGSPOT.COM)

BANGSA PERI

MENGENAL BANGSA PERI

Peri adalah adalah istilah yang sering digunakan pada cerita rakyat, dongeng, fiksi untuk menggambarkan mahluk yang memiliki kekuatan gaib yang kadang kala turut campur dalam urusan-urusan manusia. Di Indonesia istilah peri sering digunakan dalam penerjemahan tokoh yang menggambarkan elf atau fairy (istilah dalam bahasa Inggris) dalam cerita fiksi maupun dongeng-dongeng dari Eropa. Pada kisah fiksi modern karakter Peri sering dipinjam dari versi aslinya dan digunakan dalam kisah fiksi fantasi masa kini dengan berbagai variasi penggambaran tergantung oleh penulis atau penciptanya.


Asal-usul nama

Di Inggris awalnya nama peri berasal dari kata elvish sejak sebelum tahun 1000 M yang berarti bangsa peri. Dalam cerita-cerita rakyat mahluk gaib ini adalah ras yang sakti. Menurut akar kata Indo-Eropa kemungkinan namanya berasal dari albiz yang walaupun asal-usulnya tidak diketahui, merupakan kata turunan dari albho yang berarti "putih". Kata-kata inipun menjadi populer di antara orang kulit putih sehingga kini, di zaman modern, masih bisa ditemui keberadaannya sebagai nama panggilan dan nama keluarga seperti Ælfræd "Penasehat-peri" (Alfred), Ælfwine "Teman-peri" (Alvin), Ælfric "Pemerintah peri" (Eldridge), dan juga nama-nama wanita seperti Ælfflæd "kecantikan-peri" . Nama peri juga dikaitkan dengan rambut yang saling terkait yang dipercaya membawa ketidak-beruntungan apabila kaitan tersebut dilepaskan .

Penggambaran Peri

Wujud dan penampakan

Peri sering diceritakan memiliki bentuk mirip dengan manusia, seringkali juga dipercaya merupakan perupaan roh atau jin yang menjelma sebagai perempuan cantik yang senang mengganggu. Di Eropa (Inggris) sekitar tahun 1592 oleh Shakespeare peri digambarkan sebagai siluman (sprite) atau menjelma sebagai wanita cantik bersayap (fairy), di negara-negara Skandinavia dan menurut cerita-cerita kuno dari Eropa Utara penamaan peri juga diberikan pada mahluk-mahluk halus yang digambarkan sebagai mahluk metafisik, gaib atau jelmaan dari alam.
Peri juga sering diidentifikasikan sebagai mahluk-mahluk mitologis. Dalam penggambarannya cerita-cerita rakyat yang menggunakan istilah "peri" seringkali berbeda definisi tentang apa itu peri, di satu pihak nama ini seringkali dihubungkan dengan mahluk gaib seperti siluman namun pada kali lain peri digambarkan sebagai mahluk yang lebih nyata.
Wujud dan penampakan peri ini bermacam-macam, kali waktu digambarkan bahwa mereka memiliki tinggi seperti rata-rata manusia biasa dan kali lain digambarkan bahwa mereka ini berupa mahluk-mahluk kecil. Di Eropa peri dalam wujud "besar" dipercaya telah "dibicarakan" sejak sebelum tahun 1000 M, sedangkan wujud "kecil"nya mengikuti kemudian dengan membentuk rupanya sendiri berupa mahluk kecil baik yang bersayap maupun tidak, dan dipercaya muncul pada sekitar tahun 1250 - 1300M sebagai istilah turunan (dari bahasa Swedia alf, elfva) yang kemudian diterjemahkan sebagai fairy (Inggris) yang berarti mahluk yang menyerupai manusia kecil. Kadang peri digambarkan memiliki telinga panjang dan lancip, dan memiliki rambut yang panjang. Peri juga seringkali digambarkan dapat berubah wujud, atau mengambil wujud wanita cantik yang tiba-tiba bisa menghilang.

 

Peri baik dan peri jahat

Peri dapat digambarkan sebagai baik (membantu manusia) atau jahat. Dalam kisah dongeng dan cerita cinta peri digambarkan sering muncul sebagai mahluk penolong, mungkin cerita yang paling terkenal dalam penggambaran peri adalah cerita Cinderella yang pada saat kesulitan dibantu oleh ibu peri, ada juga cerita ikan mas dari Jawa Barat yang tengah membantu anak baik hati yang sedang kesulitan, peri dapat mengambil perwujudan binatang seperti lutung saat menampakan diri pada Putri Purbasari. Peri lain yang digambarkan baik hati adalah peri rumah yang tinggal bersama manusia. Dalam kisah "Tukang Sepatu dan Peri-Peri Kecil", kehidupan keluarga tukang sepatu terangkat karena dibantu pengerjaan sepatunya oleh peri-peri kecil yang keluar pada malam hari dan membuat sepatu. Pada kisah lain di Devon, seluruh desa dapat bermalas-malasan karena pekerjaan penjahit, tukang roti, hingga pembuat anggur dikerjakan oleh peri-peri kecil ini. Namun tidak semua peri rumah digambarkan keluar pada malam hari, ada juga peri rumah yang keluar pada siang hari. Dalam salah satu kisah anak-anak dunia Childcraft, penulis Swedia menggambarkan peri rumah kecil yang keluar dari pintu kecilnya dan dengan kekuatan gaibnya mengecilkan tubuh anak penghuni rumah, yang kesepian karena ditinggal orang tuanya bekerja, untuk ikut bermain bersamanya.
Sementara peri jahat digambarkan sebagai penyebab tersesatnya seseorang dalam perjalanannya. Peri juga seringkali digambarkan sebagai nakal (jahil dan iseng), entah kenakalan yang membawa kebaikan ataupun keburukan. Di Eropa anak kecil yang nakal dan sulit dikendalikan seringkali digambarkan sebagai "persis seperti peri kecil". Pada cerita dongeng Peter Pan peri kecilnya Tinkerbell digambarkan sebagai tokoh yang baik kepada Peter Pan dan jahat kepada Wendy karena cemburu.

Tempat tinggal

Penggambaran asal-usul peri seringkali dihubungkan dengan sejenis/ kelas mahluk gaib seperti siluman, yang seringkali berasal dari daerah-daerah pegunungan. Namun dalam perkembangannya peri digambarkan sebagai mahluk kecil yang dapat tidur diatas bunga, tinggal di hutan dan menjaga pohon-pohon sehingga disebut peri hutan, ataupun tinggal di dalam rumah bersama dengan manusia seperti tokoh peri rumah yang digambarkan dalam kisah Harry Potter.

Dalam legenda

Ciri umum dari peri adalah kemampuannya dalam menggunakan sihir untuk mengubah wujud. Emas peri sangat tidak bisa diandalkan, karena dia berwujud emas ketika digunakan sebagai pembayaran namun kemudian berubah menjadi daun, semak, kue, dan berbagai benda tak berguna lainnya.
Ada juga legenda mengenai pemakaman peri. William Blake mengklaim pernah menyaksikannya. Allan Cunningham dalam bukunya, Lives of Eminent British Painters, mencatat klaim William Blake tersebut. Diceritakan bahwa Blake suatu malam di kebunnya melihat makhluk-makhluk seukuran belalang dengan warna hijau dan abu-abu, meletakkan sesosok tubuh di sebuah daun mawar dan menguburnya dengan nyanyian.
Peri kadang-kadang dipercaya sebagai makhluk yang usil pada manusia. Mereka membuat kusut rambut orang yang sedang tidur, mencuri benda-benda kecil, dan menyesatkan peneglana. Tuberkulosis juga kadang-kadang disebut disebabkan oleh peri, yang memaksa pria dan wanita muda untuk menari setiap malam. Hewan (sapi, babi, bebek, dll) yang ditunggangi oleh peri bisa mengalami kelumpuhan atau menderita penyakit misterius.

Penculikan

Dalam banyak legenda, peri diceritakan sering menculik bayi (dan meletakkan changeling sebagai gantinya), pria muda dan wanita muda. Penculikan ini bisa terjadi sementara waktu atau bisa juga selamanya. Dalam Balada dari abad ke-19, "Lady Isabel and the Elf-Knight", diceritakan bahwa Isabel dibawa pergi oleh ksatria peri. Untuk menyelamatkan dirinya, Isabel membunuh sang ksatria peri. Sementara balada "Tam Lin" menceritakan tentang Tam Lin yang hidup di antara para peri padahal dia adalah seorang "ksatria bumi". Dalam puisi Sir Orfeo, diceritakan bahwa istri Sir Orfeo diculik oleh raja peri. Sementara puisi Thomas the Rhymer bercerita tentang Thomas yang harus menghabiskan tujuh tahun di dunia peri sebelum berhasil kembali ke dunia manusia. Sedangkan dalam cerita Oisín, tokoh utamanya diculik dan berada di dunia peri, ketika dia berniat kembali, ternyata di dunia manusia waktu telah berjalan selama tiga abad.
Cukup banyak kisah mengenai peri dan changeling, yaitu sesosok makhluk yang dtinggalkan oleh peri sebagai pengganti atas anak manusia yang merek culik. Orang dewasa juga bisa diculik oleh peri; seorang perempuan yang baru saja melahirkan biasanya rawan diculik peri. Dalam beberapa cerita, seseorang bisa diculik peri jika memakan makanan peri, seperti Persefone dan Hades. Sementara keadaan orang diculik peri berbeda-beda menurut beberapa kisah, beberapa menceritakan bahwa tawanan peri hidup bahagia sementara beberapa yang lainnya selalu merindukan kerabat lama mereka.

Klasifikasi

Dalam cerita rakyat Skotlandia, peri dibagi menjadi Seelie Court, yaitu peri yang menguntungkan namun bisa berbahaya, dan Unseelie Court, peri yang jahat. Peri dari golongan Unseelie court sering mencari hiburan dengan cara melakukan sesuatu yang membahayakan bagi manusia.
Pasukan peri merujuk pada para peri yang muncul dalam kelompok dan mungkin mendirikan pemukiman. Dengan definisi ini, peri biasanya dipahami dengan makna yang lebih luas, karena istilah ini juga bisa meliputi berbagai makhluk mistis yang terutama berasal dari Keltik; namun istilah ini bisa juga digunakan untuk menyebut makhluk yang serupa, msialnya Kurcaci atau Elf dari cerita rakyat Jerman. Lawannya adalah peri soliter, yakni peri tidak berhubungan dengan peri lainnya.

Perlindungan

Ada beberapa benda yang dipercaya dapat menghindarkan dari gangguan peri. Yang paling terkenal adalah besi dingin sementara cara yang lainnya dianggap mengganggu bagi peri: memakai pakaian terbalik, mengalirkan air, bel (terutama bel gereja), tanaman St. John's wort, dan semanggi berdaun empat. Ada juga cerita yang saling bertentangan, seperti msialnya pohon Rowan yang dalam beberapa cerita adalah sakral untuk peri sementara dalam cerita lainnya merupakan benda perlindungan melawan peri. Dalam cerita rakyat Newfoundland, benda pelindung yang paling populer adalah roti. Roti diasosiasikan dengan rumah dan perapian, juga dengan industri dan pengendalian alam, sehingga kemudian dipercaya bahwa roti tidak disukai oleh peri.
....dan oleh karena itu merupakan sebuah simbol kehidupan, roti adalah salah satu pelindung paling umum dalam menghadapi peri. Sebelum pergi menuju tempat yang dihuni peri, adalah biasa untuk menyiapkan roti kering dalam kantung.
—Briggs (1976) hlm. 41

Dalam sastra


"Prince Arthur and the Fairy Queen" oleh Johann Heinrich Füssli; adegan dari The Faerie Queene
Peri muncul dalam Roman abad pertengahan sebagai makhluk yang mungkin ditemui oleh ksatria pengelana. Peri wanita muncul di hadapan Sir Launfal dan meminta cintanya. Istri Sir Orfeo dibawa oleh Raja peri. Huon dari Bordeaux ditolong oleh Oberon raja peri. Seiring berjalannya abad pertengahan, tokoh-tokoh peri ini berubah menjadi penyihir dan dukun. Morgan le Fay, yang dari namanya memiliki kaitan dengan dunia peri, dalam Le Morte d'Arthur adalah seorang wanita yang memiliki kekuatan gaib. Meskipun perannya menurun, tokoh peri tidak pernah hilang, di antaranya ada cerita peri Sir Gawain and the Green Knight. Edmund Spenser menampilkan peri dalam The Faerie Queene. Dalam banyak cerita fiksi, peri sering dicampuradukkan dengan nimfa; Sementara dalam karya lainnya, (contohnya Lamia), peri dianggap menggantikan peran makhluk dari masa klasik. Penyair dan biarawan abad ke-15 John Lydgate menulis bahwa Raja Arthur dimahkotai di "tanah peri", dan mayatnya diambil oleh empat ratu peri ke Avalon, tempat mayatnya berbaring d bawah "bukit peri", sampai dia dibutuhkan lagi.

Study for The Quarrel of Oberon and Titania oleh Noel Paton: fairies in Shakespeare
Peri tampil sebagai tokoh penting dalam A Midsummer's Night Dream karya William Shakespeare, yang berlatar di daerah berhutan dan Fairyland, di bawah cahaya bulan, dan gangguan alam yang disebabkan oleh perselisihan para peri menciptakan ketegangan yang mendasari plot dan menunjukkan tindakan karakter.
Sastrawan yang sezaman dengan Shakespeare, Michael Drayton, menampilkan peri dalam ceritanya, Nimphidia. Peri juga muncul dalam The Rape of the Lock karangan Alexander Pope. Madame d'Aulnoy menciptakan istilah contes de fée ("kisah peri", di Indonesia dikenal sebagai dongeng). Pada pertengahan 1600-an, muncul gaya sastra yang disebut précieuses, sementara kisah-kisah yang diceritakan dengan précieuses meliputi banyak peri, peri kurang umum di negara lain; Grimm bersaudara memasukkan peri dalam edisi pertama cerita mereka, namun mereka berpendapat bahwa peri bukan asli dari Jerman sehingga mereka mengubahnya pada edisi kedua dengan mengganti tiap kata "Fee" (peri) dengan ahli sihir atau wanita bijak. J. R. R. Tolkien menjelaskan bahwa kisah-kisah ini seperti ini berlatar di negeri peri.
Peri dalam sastra memperoleh nyawa baru dengan munculnya Romantisisme. Penulis seperti Sir Walter Scott dan James Hogg terinspirasi oleh cerita rakyat yang menampilkan peri, misalnya Balada Border. Pada masa ini, cerita peri mengalami peningkatan. Periode ini juga ditandai dengan bangkitnya kembali tema-tema fantasi lama, seperti buku-buku Narnia karangan C.S. Lewis, yang menampilkan berbagai makhluk kuno seperti faun dan driad, dan mencampurkan mereka dengan wanita tua, raksasa, dan berbagai makhluk dari cerita rakyat. Peri bunga dari masa Victoria dipopulerkan sebagian oleh Queen Mary, serta oleh penyair dan ilustrator Britania Cicely Mary Barker yang menulis delapan buku yang diterbitkan pada 1923 sampai 1948. Semakin lama, peri digambarkan semakin cantik dan ukurannya semakin kecil. Andrew Lang, mengeluhkan tentang "para peri kebun dan bunga apel" dalam kata pengantar The Lilac Fairy Book, dia berpendapat bahwa "Peri-peri ini mencoba melucu dan gagal, atau mereka mencoba menggurui dan berhasil."[37]
Peri muncul dalam cerita Peter and Wendy karangan J. M. Barrie yang diterbitkan pada 1911. Dalam novel tersebut, tokoh peri yang bernama Tinker Bell cukup populer dan menjadi ikon bahkan sampai sekarang.

Dalam seni

Penggambaran peri banyak muncul sebagai ilustrasi, misalnya dalam buku dongeneg dan seni patung. Beberapa seniman terkenal akan penggambqran mereka tentang peri, termasuk di antaranya adalah Cicely Mary Barker, Arthur Rackham, Brian Froud, Alan Lee, Amy Brown, David Delamare, Meredith Dillman, Jasmine Becket-Griffith, Warwick Goble, Kylie InGold, Ida Rentoul Outhwaite, Myrea Pettit, Florence Harrison, Suza Scalora, Nene Thomas, Gustave Doré, Rebecca Guay dan Greta James.
Era Victoria khususnya memiliki kekhasan dalam lukisan perinya. Pelukis Richard Dadd dari masa Victoria membuat lukisan peri dengan kesan sinis. Seniman lainnya yang menggambarkan peri adalah John Atkinson Grimshaw, Joseph Noel Paton, John Anster Fitzgerald dan Daniel Maclise. Sedangkan pada masa Renaisans, daya tarik pada peri terutama dipicu oleh penerbitan foto-foto Peri Cottingley pada tahun 1917 dan sejumlah seniman juga melukis peri.

(Mawar Hitam dari Wikipedia )